Sweet 18th Tak Terlupa

Berawal dengan datangnya hari libur sekolah kami anak -anak AREMBI akan menyejukan pikiran yang tempatnya adem ayem. Setelah kami memilah-milah akhirnya kami menemukan tempat yang cocok untuk dikunjungi. Tempat yang kami merupakan tempat yang lumayan mengandung sisi edukatif. Selain mencari suasana baru kami disana juga dapat mempelajari pola kehidupan adat setempat. Dengan membaca basmallah kami mengawali perjalanan kami.
Tanggal 26 Juni, dalam suasana hati yang riang gembira kami dengan dua kendaraan bermotor yang terdiri dari empat orang menuju tempat yang akan kami kunjungi nantinya. Bromo, suatu obyek wisata alam yang tak asing dikalangan kita, yang terletak diantara kabupaten Pasuruan dan Probolinggo.
Setelah menyiapkan segalah perbekalan yang dibutuhkan kami berakat dari rumah sekitar jam 10 pagi. Sungguh kunikmati perjalanan kali ini meski kita sempat salah arah, namun itu yang membuat berjalanan ini semakin berkesan. Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, kota demi kota kita lalui dengan seksama hingga kami berhenti untuk mengisih perut yang semakin keroncongan. Sebuah warung yang cukup sederhan menarik perhatian kami untuk berhenbti mnikmati hidangan yang tersedia. Tak lama kemudian kami memesan makanan khas Madiun yaitu nasi pecel, dan dengan lahapnya kita menyantap hidangan tersebut. Beberapa jurus kemudian kami membayar dan melanjutkan perjalanan dan akhirnya berhenti di sebuah POM Bensin untuk menunaikan sholat, melihat waktu terus berjalan kami melanjutkan perjalanan agar kami tiba lebih awal.
Setelah memasuki kawasan Pengkol, jalur yang kami lalui menyenangkan. Hawanya mulai terasa sejuk, hidungku dingin karena menghirup udara sekitar. Sejurus kemudian kami tiba didaerah Puspo dan anda harus mencpobanya bagi para pecinta adu nyali. Jalannya cukup menantang, dengan kemiringan hampir tujuh puluh derajad dan tikungannya yang mampu menggoda nyali kita. Kanan-kiri pepohonan pinus berlumut yang menghiasi jalan sekitar. Hati begitu tenang ketika kita tiba di pos memasuki kawasan Wonokitri dengan matahari telah berada diufuk barat. Kami diantar petugas pos utuk mencari penginapan. Seratus ribu rupiah itulah harga satu rumah untuk setiap malamnya. Tarif yang cukup murah untuk layanan yang kami rasakan.
Malam berjalan dengan cepatnya, kami harus bisa beradaptasi dengan keadaan sekitar. Aku sedikit kaget dengan apa yang aku rasakan, bulu kuduku berdiri seraya aku mendengar lantunan lagu yang sedikit asing di telingaku. Aku mencoba bertanya kepada teman-temanku tentang suara itu, ternyata aku lupa bawha daerah yang aku tempati sekarang itu mayoritas agama Hindu dan tak salah lagi asal muasal suara itu dari Pura yang beradah disuatu tempat diatas pemukiman penduduk. Berlahan-lahan kantuk menyerang, dan akhirnya kami tertidur dengan lelapnya.
Sekitar pukul 3.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju puncak untuk menyaksikan matahari terbit. Anda pasti mampu membayangkan bagaimana kondisi di atas gunung pukul 3.00 WIB, pastinya sangat dingin. Jalan yang kami lalui berkabut dan basah, kebetulan saat itu kabut basah sedang turun. Jarak pandang yang mampu kami tembus hanya sekitar 3 meter saja. Coba bayangkan kita hanya mampu memandang 3 meter saja. Tak begitu lama waktu yang kami habiskan untuk mencapai puncak. Kami hanya btuh kesabaran untuk menyaksikan matahari terbit, dan penyakit lamaku kambuih disaat itu. Narsis, itulah penyakitku yang kambuh dan belum aku temuhkan penawarnya hingga saat ini. Waktu terus berjalan dan sang raja siang tak kunjung menampakkan kegagahannya. Kami tak bisa menyaksikan matahari terbit dikarenakan kabut dan akhirnya kami turun ke kawah Bromo,,,
Setibah di kaki kawah Bromo kami memarkirkan kendaraan dan beranjak ke kawah dengan berjalan kaki. Memang indah dan agung cinptaan-Nya, saya pribadi merasa bahwa diriku ini tak ada apa-apanya dibandingkan itu semua. Asap mengepul dari dasar kawah, hawa panas yang disemburkan oleh kawah itu hanya sedikit yang mampuh aku rasakan. Tanpa kuasa-Nya aku lumpuh dan buta akan adanya langit diats langit yang berarti diri ini tak mungkin boleh sombong untuk menjalani kehidupan yang sesaat ini. Sedikit demi sedikit diri ini ditunjukan penegur agar kita tidak salah jalan, dan teguran itu aku rasakan melalui penapakan alam yang ke eksotisannya mampu diakui.
Siang semakin terik akhirnya dan kami kembali turun untuk kembali. Sebelum kami kembali, aku sempatkan waktu untuk mengambil oleh-oleh yaitu bunga abadi yang biasa dikenal dengan bunda Adelwish. Salah satu bunga langka yang patut kita lestarikan kejayaannya.
Kami pulang dengan hati yang penuh syukur dan pastinya bahagia....

0 komentar: