Cinta Adam Terhadap Maria
Langit sore memang selalu nampak indah dipandang mata, semburat kuning kemerah-merahan mampu menentramkan jiwa setiap insan yang lagi gunda. Hanya sang Kholig yang mampu menciptakan penampakan seindah ini. Dan hanya penyembah-Mu yang beriman yang mampu merasakan keindahan itu.
Berawal dari sore yang cerah ini sorang yang bernama Adam menjalani rutinitasnya sehari-hari menjadi seorang pengamen perumahan. Ia memiliki kemampuan bermain gitar yang dapat dikatakan hebat, dan suaranya pun mampu menyamai artis ternama yaitu Ari Lasso. Jalan poros mulai ia lalui setapak demi setapak dan kaluar masuk rumah untuk mendendangkan lagu demi mendapatkan sesuap nasi. Pemuda ini melakukan hal yang sama hampir setiap sore. Berangkat sore dan kembali ke rumah sekitar jam delapan malam. Ia tidak pernah menyesali dengan kondisi yang ia rasakan, yang ada dalam benaknya hanyalah usaha dan terus berusaha untuk melengkapi kebutuhanya sehari-hari. Dan pemuda ini pun dikenal tidak mudah terpikat oleh kecantikan seorang gadis.
seusai berlalunya waktu mahgrib, ia melanjutkan perjalannya memasuki rumah satu ke rumah yang lain. Ia memasuki sebuah rumah yang tertata minimalis namun terlihat enak dipandang. Saat memasuki rumah tersebut pemuda itu merasakan sedikit perasaan ragu dalam hatinya. Ia bergumam dalam hati " ada apa ini, tak biasanya aku ragu, mengapa aku ragu ketika memasuki rumah ini". Ia pun bernyanyi dengan penuh kebimbangan.
"Subhanallah,,?!!"
Ia terperanjat ketika yang ia dapati adalah gadis berkulit putih bersih yang mengulurkan uang dihadapanya. Jari-jemarinya lentik nan elok dipandang. Senyumnya mengembang menghiasi wajahnya yang bersih dan Adam pun membalas senyumanya tak kalah sumringahnya. Ia berlalu dengan perasaan penuh warna.,,
Dunia ini memang indah bagi mereka yang lagi kasmaran. Dan rasa ini telah melanda pemuda yang benar-benar gila karena terbedaya oleh kecantikan seorang gadis belia yang pernah ia temuai saat ia menjalankan rutinitas sehari-harinya.
Memang kecantikan gadis itu telah menyebar hingga kepenjuru plosok desah. Bahkan Maria bisa dikatakan kembang desa, karena dengan kecantikan dan kesolikhaannya ia menjadi populer. Tak khayal seoarng Maria mampu memarik perhatian seorang Adam yang juga memiliki kecakapan paras.
Hari-hari dilalui dengan penuh semangat, kemungkinan besar pemicu timbulnya rasa semangat itu dikarenakan ingin selalu berjumpa dengan dewi pujaanya itu. Mereka bertemu dan saling melempar senyum khas mereka masing-masing. Hari berganti dan hal yang sama dan selalu sama ia temui. Dan akhirnya Adam merasa ingin menyatakan apa yang telah ia rasakan terhadap gadis pujaannya, Maria. Adam mencoba datang kerumah Maria untuk melaksanakn niatnya itu, namun ia ragu karena ia tidak punya apa-apa untuk itu bahkan baju yang sepadan pun ia tak memiliki. "Bagaimana ini aku tak punya apa-apa untuk Maria, namun aku tak mampu menahan perasaan ini,,," Adam bergumam pelan. Rasa ragu dan minder sempat melanda perjaka itu. Berlahan-lahan ia menepis rasa tersebut, dan berlahan-lahan menguatkan dan meyakinkan bahwa dia mampu untuk itu.
Sabtu sore Adam menyiapkan diri sebaik mungkin, ia merasa sore ini adalah hari yang luar biasa. Dengan bekal sebuah gitar ia ingin menaklukan hati seorang Maria yang begitu jelita. Ia datang dengan penuh semangat dan percaya diri tingi untuk siap memiliki dan bersanding dengan Maria. Berlahan-lahan ia memasuki wilayah perumahan Maria dengan hati berkemelut akhirnya Adam sampai juga di tempat tujuan. Sejurus kemudian Adam tepat berada di depan pintu rumah wanita pujaannya dan ia siap untuk melantunkan lagu yang mampu menerbangkan perasaan siapapun yang mendengarkannya.
Dengan suaranya yang khas nan lembut itu Adam menyanyikan lagu cinta dengan penuh penghayatan. Maria terkesima dengan apa yang didengarnya, segera ia mencari yahu siapa yang melantunkan lagu tersebut. Ternyata adam, Maria segera mengambil uang receh untuk memberikannya kepada Adam. Maria mengulurkan recehan uang sambil tersenyum, namun ia dikagetkan dengan sikap Adam dengan menolak uang pemberian Maria. Adam berkata belahan namun pasti "Aku datang kesini bukan sebagai pengamen, namun sebagai Adam yang siap untuk meneguk dan merasahkan kesegaran cintamu" sambil menatap mata Maria dengan penuh makna. Maria mundur satu lagkah dan kondisi menjadi senyap sejenak. Maria bingung dengan apa yang dilontarkan oleh lelaki didepannya itu, kemudian maria bertanya dengan apa yang dikatakan Adam. Adam menjelaskan dengan detail, dan berharap Maria dapat mengerti apa yang sedag dialami oleh Adam serta berkenan menerima dan sebagai kekasihnya. Maria sulit menerima dengan apa yang terjadi, ia merasa bahwa ini adalah suatu kebohongan besar. Maria telah menganggap Adam sebagai sesosok teman yang menyenangkan dan tidak lebih dari itu. Maria mulai mengatur nafas untuk menjelaskan bagaimana perasaannya terhadap lelaki tersebut. Dengan tutur bahasa yang lembut Maria nyampaikan bahwa ia tidak bisa memenuhi permintaanya karena, gadis itu hanya menganggapnya sebagai teman biasa, Maria sungguh-sungguh minta maaf dengan hal tersebut.
Adam begitu terpukul mendengar perkataan yang terucap dari bibir manis Maria, namun bagaimana lagi memang begini kenyataanya. Adam hanya mampu memendap perasaan yang tersayat sembilu ini dalam-dalam, bahkan Adam sempat menitihkan air matanya didepan Maria. Karena tak sanggup melihat Adam menganis didepannya, Maria pun tak dapat membendung air matanya itu. Hujan tangis pun terjadi sejenak.
Melihat gadis di depannya sesenggukan, ia menghentikan air matanya yang masih mengalir, karena ia mengerti bahwa Maria menangis karena dia. Adam tidak mampu menyaksikan air mata yang bening itu jatuh hanya karena dirinya yang nista. Adam mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Berlahan-lahan ia mengusap air mata yang tumbuh dari sudt mata Maria. Maria pun membalasnya dengan senyuman. Dan Adam menjadi senang karena melihat sinar Maria kembali. KIni tak ada lagi batu yang mengganjal dalam hati sang Adam.
Semuanya kembali tersenyum seperti sediakala disaat biasa saja. Suatu kenangan yang tak dapat terhapus dalam memorinya. Sungguh agung keberanian sang Adam untuk menyatakan cintanya kepada pujaan kasihnya Maria. Pedih tetap terasa. Adam tak perna menyesali itu, meski maria tidak bisa menerimanya sebagai seorang kekasih.
"Sungguh Engkau yang maha mengetahui isi hati, dan Engkau pula Dzat yang membolak-balikan perasaan"(och)
Berawal dari sore yang cerah ini sorang yang bernama Adam menjalani rutinitasnya sehari-hari menjadi seorang pengamen perumahan. Ia memiliki kemampuan bermain gitar yang dapat dikatakan hebat, dan suaranya pun mampu menyamai artis ternama yaitu Ari Lasso. Jalan poros mulai ia lalui setapak demi setapak dan kaluar masuk rumah untuk mendendangkan lagu demi mendapatkan sesuap nasi. Pemuda ini melakukan hal yang sama hampir setiap sore. Berangkat sore dan kembali ke rumah sekitar jam delapan malam. Ia tidak pernah menyesali dengan kondisi yang ia rasakan, yang ada dalam benaknya hanyalah usaha dan terus berusaha untuk melengkapi kebutuhanya sehari-hari. Dan pemuda ini pun dikenal tidak mudah terpikat oleh kecantikan seorang gadis.
seusai berlalunya waktu mahgrib, ia melanjutkan perjalannya memasuki rumah satu ke rumah yang lain. Ia memasuki sebuah rumah yang tertata minimalis namun terlihat enak dipandang. Saat memasuki rumah tersebut pemuda itu merasakan sedikit perasaan ragu dalam hatinya. Ia bergumam dalam hati " ada apa ini, tak biasanya aku ragu, mengapa aku ragu ketika memasuki rumah ini". Ia pun bernyanyi dengan penuh kebimbangan.
"Subhanallah,,?!!"
Ia terperanjat ketika yang ia dapati adalah gadis berkulit putih bersih yang mengulurkan uang dihadapanya. Jari-jemarinya lentik nan elok dipandang. Senyumnya mengembang menghiasi wajahnya yang bersih dan Adam pun membalas senyumanya tak kalah sumringahnya. Ia berlalu dengan perasaan penuh warna.,,
Dunia ini memang indah bagi mereka yang lagi kasmaran. Dan rasa ini telah melanda pemuda yang benar-benar gila karena terbedaya oleh kecantikan seorang gadis belia yang pernah ia temuai saat ia menjalankan rutinitas sehari-harinya.
Memang kecantikan gadis itu telah menyebar hingga kepenjuru plosok desah. Bahkan Maria bisa dikatakan kembang desa, karena dengan kecantikan dan kesolikhaannya ia menjadi populer. Tak khayal seoarng Maria mampu memarik perhatian seorang Adam yang juga memiliki kecakapan paras.
Hari-hari dilalui dengan penuh semangat, kemungkinan besar pemicu timbulnya rasa semangat itu dikarenakan ingin selalu berjumpa dengan dewi pujaanya itu. Mereka bertemu dan saling melempar senyum khas mereka masing-masing. Hari berganti dan hal yang sama dan selalu sama ia temui. Dan akhirnya Adam merasa ingin menyatakan apa yang telah ia rasakan terhadap gadis pujaannya, Maria. Adam mencoba datang kerumah Maria untuk melaksanakn niatnya itu, namun ia ragu karena ia tidak punya apa-apa untuk itu bahkan baju yang sepadan pun ia tak memiliki. "Bagaimana ini aku tak punya apa-apa untuk Maria, namun aku tak mampu menahan perasaan ini,,," Adam bergumam pelan. Rasa ragu dan minder sempat melanda perjaka itu. Berlahan-lahan ia menepis rasa tersebut, dan berlahan-lahan menguatkan dan meyakinkan bahwa dia mampu untuk itu.
Sabtu sore Adam menyiapkan diri sebaik mungkin, ia merasa sore ini adalah hari yang luar biasa. Dengan bekal sebuah gitar ia ingin menaklukan hati seorang Maria yang begitu jelita. Ia datang dengan penuh semangat dan percaya diri tingi untuk siap memiliki dan bersanding dengan Maria. Berlahan-lahan ia memasuki wilayah perumahan Maria dengan hati berkemelut akhirnya Adam sampai juga di tempat tujuan. Sejurus kemudian Adam tepat berada di depan pintu rumah wanita pujaannya dan ia siap untuk melantunkan lagu yang mampu menerbangkan perasaan siapapun yang mendengarkannya.
Dengan suaranya yang khas nan lembut itu Adam menyanyikan lagu cinta dengan penuh penghayatan. Maria terkesima dengan apa yang didengarnya, segera ia mencari yahu siapa yang melantunkan lagu tersebut. Ternyata adam, Maria segera mengambil uang receh untuk memberikannya kepada Adam. Maria mengulurkan recehan uang sambil tersenyum, namun ia dikagetkan dengan sikap Adam dengan menolak uang pemberian Maria. Adam berkata belahan namun pasti "Aku datang kesini bukan sebagai pengamen, namun sebagai Adam yang siap untuk meneguk dan merasahkan kesegaran cintamu" sambil menatap mata Maria dengan penuh makna. Maria mundur satu lagkah dan kondisi menjadi senyap sejenak. Maria bingung dengan apa yang dilontarkan oleh lelaki didepannya itu, kemudian maria bertanya dengan apa yang dikatakan Adam. Adam menjelaskan dengan detail, dan berharap Maria dapat mengerti apa yang sedag dialami oleh Adam serta berkenan menerima dan sebagai kekasihnya. Maria sulit menerima dengan apa yang terjadi, ia merasa bahwa ini adalah suatu kebohongan besar. Maria telah menganggap Adam sebagai sesosok teman yang menyenangkan dan tidak lebih dari itu. Maria mulai mengatur nafas untuk menjelaskan bagaimana perasaannya terhadap lelaki tersebut. Dengan tutur bahasa yang lembut Maria nyampaikan bahwa ia tidak bisa memenuhi permintaanya karena, gadis itu hanya menganggapnya sebagai teman biasa, Maria sungguh-sungguh minta maaf dengan hal tersebut.
Adam begitu terpukul mendengar perkataan yang terucap dari bibir manis Maria, namun bagaimana lagi memang begini kenyataanya. Adam hanya mampu memendap perasaan yang tersayat sembilu ini dalam-dalam, bahkan Adam sempat menitihkan air matanya didepan Maria. Karena tak sanggup melihat Adam menganis didepannya, Maria pun tak dapat membendung air matanya itu. Hujan tangis pun terjadi sejenak.
Melihat gadis di depannya sesenggukan, ia menghentikan air matanya yang masih mengalir, karena ia mengerti bahwa Maria menangis karena dia. Adam tidak mampu menyaksikan air mata yang bening itu jatuh hanya karena dirinya yang nista. Adam mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Berlahan-lahan ia mengusap air mata yang tumbuh dari sudt mata Maria. Maria pun membalasnya dengan senyuman. Dan Adam menjadi senang karena melihat sinar Maria kembali. KIni tak ada lagi batu yang mengganjal dalam hati sang Adam.
Semuanya kembali tersenyum seperti sediakala disaat biasa saja. Suatu kenangan yang tak dapat terhapus dalam memorinya. Sungguh agung keberanian sang Adam untuk menyatakan cintanya kepada pujaan kasihnya Maria. Pedih tetap terasa. Adam tak perna menyesali itu, meski maria tidak bisa menerimanya sebagai seorang kekasih.
"Sungguh Engkau yang maha mengetahui isi hati, dan Engkau pula Dzat yang membolak-balikan perasaan"(och)
