Kasih Tak Sampai
Semenjak aku menginjakan kakiku di SMA N 3 Lamongan aku bertemu dengan banyak orang-orang hebat yang membuat aku berbanyak syukur kepada Dzat pencipta alam yang telah mempertemukan aku dengan mereka semua. Dimulai dari teman sekelasku yang sering dipanggil Puspa. Ia adalah anak yang manis yang memiliki kemampuan berfikir tanggap dan pastinya pengertian terhadap para sahabatnya. Evi, gadis kelahiran Surabaya yang mampu menarik perhatian sebaian cowok yang telah menjadi sahabat dekat aku.
Beberapa minggu aku telah belajar di SMA ini, dan pada saat itu pula aku menemukan seorang gadis yang mampu menggetarkan jiwaku. Evi nama gadis itu yang sebelumnya aku kenal dengan akrab. Namun aku memendam rasa itu yang hingga aku duduk sekelas dengan sidia. Aku terus memendam dan terus memendam rasa yang aku miliki yang berakhir dengan kehampaan yang menyiksa.
Manusia tidak ada yang sempurna, sehingga aku tidak kuasa untuk menahan rasa ini dan akupun menceritakan dengan sahabat dekatku Puspa. Petir menggelegar ketika sahabatku itu mengatakan bahwa Evi juga perna ada rasa terhadapku, namun ia tak berani menceritakan terhadap Puspa karena puspa adalah sahabat dekatku. Bahkan Evi telah memendam asmarahnya sejak ia bertemu dengan aku hingga ia menemukan kekasih hati yang mampu mengisi hatinya yang kosong. Penyesalan pastilah datang yang mamapu membuat diri ini terpuruk sepi dalam jurang kesunyian hati. Kesedihan dan kemalangan tak berhenti hanya sampai disini, aku mendapat langsung kabar dari gadis yang pernah mengguncang jiwa ini bahwa pujaan hati yang ia temukan adalah teman dekatku sendiri yang telah empat tahun bersama. Bagaimana rasa ini? Kuatkah aku menahan cobaan ini? Mungkinkah aku bangun dari keterpurukan?. Sedih, kecewa, marah bercampur menjadi menjadi satu. Namun anehnya masih ada sedikit kebahagiaan yang terbesit dalam jiwa yang tak berdaya ini. Dengan bergulirnya waktu raga dan jiwa ini mampu menepis hujaman derita yang datang silih berganti. Dengan tutur nasehat yang terlontar dari Puspa yang mampu menenangkan hati, sehingga hari-hari dapat aku lalui dengan senyuman. Puji syukur aku haturkan kepada-Nya yang telah memvberikan seorang sahabat yang hebat serti kalayak Puspa.
Evi melalui hari-harinya dengan senyuman, begitu pula dengan aku meski masih sedikit rasa perih yang tergores. detik berganti menit, menit nerganti jam, jam nerganti hari yang senan tiasa mengiringi kebahagiaan mereka.
Setelah berjalan beberapa bulan aku merasakan ada perubahan sikap evi untuk akhir-akhir ini, begitu pula yang dirasakan sobatku Puspa. Kami mencoba mengukap tanda tanya besar yang terjadi pada intan. Hari itu tak seperti biasanya, pagi yang biasanya sunyi kali ini menjadi sedikit bergemuruh yang digemparkan oleh kabar bahwa Evi telah ngejomblo lagi,,
Aku tak kuasa melihat air matanya yang berlinang begitu deras, air matanya masih terasa hangat. Wajahnya agak sedikit aneh, cekungan matanya mengembang akibat tangisan yang tak henti-hentinya. Sejak semalam ia menangis dan Puspa dibikin kualahan untuk meredahkan tangisan itu. Dan hubungan mereka tak seharmonis dulu, seolah ada tembok pemisah yang berasa diantara mereka.
Kini aku mengerti dan aku sadari bahwa persahabatan lebih penting dari pada hubungan pacar. Dengan persahabatan kita bisa bercanda bersama, dengan persahabatan kita dapat berbagi duka. Denga ini aku bersaran pada kalian para pembaca agar jangan sampai ada hubungan asmarah dalam suatu persahabatan bisa dikatakan "Teman Jadi Cinta". Karena itu dapat menciptakan cela dalam persahabatan kalian. Meski kita ketahui selama ini tak sedikit kisah asmarah yang awal mulanya teman biasa dan telah menjalin status "berpacaran".............
Hati-hatilah untuk memilih, mana yang pantas dijadikan sahabat dan pacar..
Okay,,,, Thanks,,,,,,,,
Beberapa minggu aku telah belajar di SMA ini, dan pada saat itu pula aku menemukan seorang gadis yang mampu menggetarkan jiwaku. Evi nama gadis itu yang sebelumnya aku kenal dengan akrab. Namun aku memendam rasa itu yang hingga aku duduk sekelas dengan sidia. Aku terus memendam dan terus memendam rasa yang aku miliki yang berakhir dengan kehampaan yang menyiksa.
Manusia tidak ada yang sempurna, sehingga aku tidak kuasa untuk menahan rasa ini dan akupun menceritakan dengan sahabat dekatku Puspa. Petir menggelegar ketika sahabatku itu mengatakan bahwa Evi juga perna ada rasa terhadapku, namun ia tak berani menceritakan terhadap Puspa karena puspa adalah sahabat dekatku. Bahkan Evi telah memendam asmarahnya sejak ia bertemu dengan aku hingga ia menemukan kekasih hati yang mampu mengisi hatinya yang kosong. Penyesalan pastilah datang yang mamapu membuat diri ini terpuruk sepi dalam jurang kesunyian hati. Kesedihan dan kemalangan tak berhenti hanya sampai disini, aku mendapat langsung kabar dari gadis yang pernah mengguncang jiwa ini bahwa pujaan hati yang ia temukan adalah teman dekatku sendiri yang telah empat tahun bersama. Bagaimana rasa ini? Kuatkah aku menahan cobaan ini? Mungkinkah aku bangun dari keterpurukan?. Sedih, kecewa, marah bercampur menjadi menjadi satu. Namun anehnya masih ada sedikit kebahagiaan yang terbesit dalam jiwa yang tak berdaya ini. Dengan bergulirnya waktu raga dan jiwa ini mampu menepis hujaman derita yang datang silih berganti. Dengan tutur nasehat yang terlontar dari Puspa yang mampu menenangkan hati, sehingga hari-hari dapat aku lalui dengan senyuman. Puji syukur aku haturkan kepada-Nya yang telah memvberikan seorang sahabat yang hebat serti kalayak Puspa.
Evi melalui hari-harinya dengan senyuman, begitu pula dengan aku meski masih sedikit rasa perih yang tergores. detik berganti menit, menit nerganti jam, jam nerganti hari yang senan tiasa mengiringi kebahagiaan mereka.
Setelah berjalan beberapa bulan aku merasakan ada perubahan sikap evi untuk akhir-akhir ini, begitu pula yang dirasakan sobatku Puspa. Kami mencoba mengukap tanda tanya besar yang terjadi pada intan. Hari itu tak seperti biasanya, pagi yang biasanya sunyi kali ini menjadi sedikit bergemuruh yang digemparkan oleh kabar bahwa Evi telah ngejomblo lagi,,
Aku tak kuasa melihat air matanya yang berlinang begitu deras, air matanya masih terasa hangat. Wajahnya agak sedikit aneh, cekungan matanya mengembang akibat tangisan yang tak henti-hentinya. Sejak semalam ia menangis dan Puspa dibikin kualahan untuk meredahkan tangisan itu. Dan hubungan mereka tak seharmonis dulu, seolah ada tembok pemisah yang berasa diantara mereka.
Kini aku mengerti dan aku sadari bahwa persahabatan lebih penting dari pada hubungan pacar. Dengan persahabatan kita bisa bercanda bersama, dengan persahabatan kita dapat berbagi duka. Denga ini aku bersaran pada kalian para pembaca agar jangan sampai ada hubungan asmarah dalam suatu persahabatan bisa dikatakan "Teman Jadi Cinta". Karena itu dapat menciptakan cela dalam persahabatan kalian. Meski kita ketahui selama ini tak sedikit kisah asmarah yang awal mulanya teman biasa dan telah menjalin status "berpacaran".............
Hati-hatilah untuk memilih, mana yang pantas dijadikan sahabat dan pacar..
Okay,,,, Thanks,,,,,,,,

Put, tulisanmu tambah bagus aja....
Winda