Diklat Skarf Orange
Jumat kemarin tepatnya taggal 10 juli aku beserta anggota SMAGAPALA lainya diberangkatkan ke gunung wlirang untuk melaksanakan diklat pengambilan skraf. Dengan perasaan suka cita kita mengawali petulangan untuk menaklukan G.Wlirang yang sebelumnya diawali dengan apel di depan sekolah. Gunung yang berada di Malang tepatnya di kab.Pandaan itu kita tempuh dengan kendaraan truk. Sungguh terbayankan bagaimana rasanya di dalam truk selama kurang lebih 3jam. Banyak anak-anak yang mabuk darat sehingga butuh kresek yang cukup banyak, rasa mual itu ditambah dengan medan yang ditempuk berkelok-kelok naik turun. Setelah tiba di perijinan aku rasakan bahwa kegiatan ini akan bermakna dalam hidupku. Kebetulan acara penaklukan itu bersamaan dengan sahabat kita adari MANPALA dan PA dari Gresik, jadi lumayan seru. Kami melangkah demi selangkah untuk menggapai puncak. "KAMI BAGAIKAN SETITIK DEBUH DI HAMPARAN PERMADANI YANG LUAS TAPI KITA TETAP BERUSAHA". Itulah semboyan organisasi kita, satu untuk semua semua umtuk satu. Sungguh kurasakan kebersamaan yang begitu erat antara kita. Rasa lelah,letih dan dahaga kita terjang demi kelangsungan hidup di gunung. Waktu mahgrib kita baru tiba di kop-kopan yaitu pos pertama. Terasa suhu yang tak biasa dikehidupanku sehari-hari dan kalap-kelip lampu terpancarkan dari bawah sana, sungguh penampakan yang tak ternilai harganya. Kami mendirikan tenda dan mengganjal perut dengan sebungkus roti, setelah itu kami tidur cepat karena rasa letih yang tak tertahankan bersarang di tubuh yang lemah ini.Keesokan harinya semua membuat sarapan namun kelompok kita yang terdiri dari 6 orang itu tidak ada yang bisa memasak. Kita mencoba menanak nasi, namun nasi itu tak kunjung matang dan kita terpaksa sarapan dengan nasi yang setengah matang. Ketika itu baru aku rasakan nikmatnya dan berharganya makanan. Tak lama kemudian kita melanjutkan hingga ke puncak Wlirang, namun sammmmpaik pondokan kita istirahat melihat rekan kita(mb.khoyum) terkena hipotermia. Melihat matahari sudah di atas kepala, kita melanjutkan hingga kepuncak. Asap belerang sudah terlihat itu menandakan bahwa kita sudah sekat. Madan antara pondoan-puncak sangatlah terjal dan disitu banyak ditumbuhui tumbuhan pakis haji. Untuk menahan dahaga aku mengambil buah dari tumbuhan berduri tersebut, karena dipuncak tidak ada lagi sumber air mineral. Jurang demi jurang kulalui, batu dmei batu aku pijaki, sungguh berat beban yang kita panggul namun kita sadar bahwa leputusasaan adalah hal yang perlu di jauhi sejauh mungkin. Kita tiba di puncak sekitar mahgrib dan ku hirup dinginya puncak Wlirang, matahari yang tenggelam dengan nampak anggun ketika awan-awan tipis menyelimutinya. Sungguh besar kuasa pencipta alam atas segalahnya. Tampak gunug-gunung berselimut kabut yang tengah berdirih gagah melihi Bhima Sena. Terlontar takbir secar serentak mengagumi kebesaran Tuhan, tak terasa air mata mengalir di pipi. Sungguh tak terlukiskan keindahannya.......
Allahhuakbar....Allahuakbar...Allahuakbar

iiiiiihhhhh .......
Pingin dunk Put ....
Q kok Gak d Ajag ......